Stoisisme: To Be A Poker Face To A Whole New Level

Pernah suatu waktu naik ojek online dan dibawa ngebut sama abangnya. Itu juga setelah ditanyakan kalau gue buru-buru atau ngga saat itu, dengan kata lain ya aksi kebut-kebutan itu sudah hasil kesepakatan. Mungkin sepanjang perjalanan si abang ngecekin di spion memastikan penumpangnya masih ada atau ngga. Sampai di tempat tujuan, si abang nanya, Teh udah biasa dibawa ngebut bukan? Kok diem aja sih?” Gue cuma bales hehe tapi ngomong dalam hati, Terus urang kudu naon mang? Salto sambil jejeritan?”

Ada juga suatu waktu, sebut saja ketika gladi resik (GR) wisuda, totebag gue lenyap. Singkatnya karena di sekeliling gue banyak manusia baik dan inisiatif, ada juga manusia yang terlalu mendalami atmosfir GR wisuda sampai kepekaannya menguap. Setelah berusaha melaporkannya ke pihak-pihak yang diharapkan dapat membantu, gue duduk di sekitaran rektorat sambil mengamati manusia-manusia lain yang lagi sesi photoshoot. Kebetulan sepanjang hari itu gue dibersamai sama seorang teman yang sungguh setia dan berjasa sekali dalam memecahkan misteri lenyapnya totebag gue. Kepada setiap orang yang lewat di sekitar kita, pasti dicegat sama teman gue ini dan dijelasin kronologinya tas gue hilang hingga woro-woro untuk mengecek totebag masing-masing mana tahu itu totebag ternyata punya gue. Sedikit fakta unik, di hari itu hampir semua yang mengikuti gladi memakai totebag yang sama, jadi ya ngga heran juga kalau sampai ada kejadian begini 🙂 Tas lu ilang, Tu? Kok anteng banget sih lu?! Gue kalo jadi lu udah nangis-nangis kali,” ujar seorang teman lain yang baru saja di-briefing teman gue yang setia woro-woro sedari tadi –yang lagi-lagi hanya gue bales dengan hehe karena sesungguhnya gue pun sudah tidak berenergi setelah melalui seharian dengan kebayaan dan ber-selop-ria.

Cerita di atas hanya secuil dari kisah hidup yang menggambarkan betapa lempengnya gue menghadapi kejadian-kejadian unik sehari-hari. Kelempengan ini bukan semata-mata pemberian label oleh gue pada diri sendiri, sayangnya (atau beruntungnya) juga sudah divalidasi sama orang-orang yang pernah atau cukup sering berinteraksi dengan gue. Sampai suatu hari gue dipertemukan dengan sebuah buku yang turut serta memvalidasi eksistensi manusia semacam gue di dunia ini,

monmaaf aja attachmentnya ngga eye pleasing

Kategori buku self-improvement atau self-help atau sejenisnya sebenarnya jauh banget dari minat gue. Gue selalu skeptis isinya ngga akan jauh-jauh dari penanaman nilai-nilai positif di kepala, penolakan energi negatif dalam hidup, atau segudang jurus self-defense lainnya yang seringnya buat gue… DUHHH???!!1!!1

Tapi semenjak melihat buku ini berseliweran di toko buku dan ulasannya di media sosial, gue jadi tergugah untuk memasukkannya ke dalam daftar buku yang ingin gue baca. Betapa beruntungnya gue ketika semesta berkonspirasi menggerakkan hati salah satu sobat purnamaku untuk membawakannya sebagai kado wisuda gue h3h3h3. Padahal gue ngga pernah sama sekali ngebahas buku ini sama dia, makanya sebut saja ini konspirasi semesta. HALAH!

Buku ini ngenalin ke gue salah satu ilmu filsafat yang ngomongin soal kelempengan hidup dan menerima nasib lewat kelola pikiran, persepsi, dan nalar secara sadar, bukan kepasrahan, bukan juga jurus-jurus untuk menjadi happily ever after. Gue ngga akan nulis review atau resensinya gimana di sini, lengkapnya boleh dibaca langsung bukunya atau cuplikannya bisa dibaca langsung di sini, ditulis langsung oleh pengarangnya sendiri :p

Ilmu kelempengan ini ternyata sudah dibahas sejak jamannya filsuf-filsuf Yunani-Romawi Kuno yang dinamai sebagai Stoisisme/Stoic/Stoa, yang kemudian dari asal muasalnya dimaknai jadi Filosofi Teras oleh penulis buku. Beberapa manusia yang merasa sudah menjalani hidupnya dengan lempeng kemudian melabeli dirinya sebagai seorang stoic, tapi gue pribadi, sebagai seorang yang juga lempeng, ngga serta-merta kemudian memberikan label itu pada diri gue sendiri. Karena… selempeng-lempengnya gue, masih bisa misuh-misuh ketika nemu orang ndableg di jalan atau di KRL, masih bisa sakit kepala sampai harus minum obat ketika baca berita ngeliat kondisi Indonesia akhir-akhir ini, masih bisa nangis sesegukan ketika nonton 27 Steps of May bahkan nonton Coco. Jadi, sejauh mana definisi lempeng yang dimaksud filsafat ini?

Menghabiskan bab-bab permulaan sesungguhnya masih membuat gue cukup skeptis dari isi buku ini karena yang gue tangkep masih seputar bagaimana cara kita melawan emosi negatif. Ya walaupun dibarengi dengan penjelasan dan contoh peristiwa kehidupan sehari-hari yang bisa dinalar, tapi gue masih ngerasa tujuannya adalah melawan emosi negatif. Sebagai salah satu orang yang sudah terdogma oleh konsep self healing salah satu terapis di Indonesia, Reza Gunawan, selama ini gue belajar bersikap ketika dihadapi emosi negatif adalah dengan kenali-rasakan-akui-izinkan, bukan dengan cara melawan. Karena toh manusia hadirnya sepaket, baik itu emosi positif maupun emosi negatif. Karena toh ngga ada juga perasaan yang kekal, baik itu sedih maupun bahagia, jadi ngga perlu juga ngoyo buat positif selalu.

Tapi permirsah, ngoyo dengan satu sudut pandang -yang kita rasa benar- pun ngga baik buat proses nerima ilmu haha. Jadi gue bersabar baca bab-bab berikutnya dan membuka diri untuk memproses apa-apa yang gue baca di dalamnya.

Gue mulai manggut-manggut ketika meresapi beberapa poin yang paling nancep di otak gue: prinsip dikotomi kendali (yang kemudian dilanjutkan menjadi trikotomi kendali) dengan menyadari ada hal-hal yang bisa kita kendalikan, hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang bisa sebagian kita kendalikan; juga preferred/unpreferred indifferent soal hal-hal yang ada di luar kendali kita, yang ngga ngaruh, tapi kalau ada/ngga ada ya lebih baik; pola pikir destruktif 3P (personalization atau nyalahin diri sendiri pas ada musibah, pervasiveness atau menganggap dunia kiamat karena satu musibah kejadian sama kita, permanence atau keyakinan kalau akibat musibah itu bakal dirasain selama hayat dikandung badan).

Dan turning pointnya adalah ketika gue membaca 3 bab terakhir sebelum bab penutup yang membahas soal filosofi teras ini dalam menjadi orang tuamenjadi warga dunia, dan tentang kematian. Ambyar. Gue sepenuhnya sepakat, we are all simply human beings.

Lengkapnya gimana? Baca dulu deh bukunya baru kita diskusi wkwk muah (gue di sini mau bikin impresi, bukan resensi, inget)

Secara keseluruhan gue suka bukunya, gimana penulis bisa menjelaskan salah satu ilmu filsafat dengan bahasa yang super ringan dan disertai sama contoh-contoh yang paling mungkin kita temui di keseharian. Gue juga suka ada beberapa bab yang diakhiri dengan sesi percakapan penulis sama beberapa tokoh dengan latar belakang yang beragam, misal psikiater, psikolog, sampai content creator. Banyak istilah-istilah asing dari profesi mereka yang menarik buat dibahas terkait filosofi teras ini. Di akhir buku juga penulisnya nyertain sumber-sumber bacaannya sampai hasil Survei Khawatir Nasional yang memang sengaja dibuat penulisnya untuk cek ombak kondisi lapangan selama proses dia belajar filosofi teras ini. Walaupun padanan kata melawan / terbebas dari untuk emosi negatif masih terasa mengganggu buat gue.

Ah, satu lagi, yang paling gue demen dari buku ini, penulisnya nyertain alamat surel untuk pembaca yang mau diskusi soal buku ini, baik menyampaikan kesan atau kritik membangun. Baru nemu yang kayak gini atau mungkin gue yang masih kurang piknik atau kurang jauh mainnya, syududu~

Meskipun sebagian besar, sepanjang perjalanan gue baca isinya, ngerasa “asli, gue banget”, tapi rasanya tetap menyenangkan ketika melakukan kewarasan dengan kesadaran penuh. Anyway, stoisisme pada akhirnya bukan cuma sekedar ilmu filsafat yang berujung buat dijadikan bahan diskusi berisi nan asyik, ini ilmu yang kudu dipelajari dan dipraktikkan seumur hidup. Kan, hidup tujuannya bukan untuk bahagia, tapi gimana bisa menderita dengan terampil. Lifelong learning, my dear friend.

Akhir kata, setelah The Subtle Art of Not Giving a Fuck punya Mark Manson, gue merekomendasikan buku ini buat yang butuh bacaan a la – a la untuk mengenal eksistensi diri sendiri. Ciao! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s